>waktunya rehat..

>Well… hari ini waktunya pulang kampung trus dipingit seminggu soalnya nikahannya tinggal 6 hari lagi.. dah waktunya luluran…timungan…dan menunggu detik-detik proklamasi bahwa kami sudah resmi jadi muhrim!!!!! (hip..hip..hura!!!!) so buat temen-temen,kami rehat blogwalkingnya dulu.. semoga abis akad langsung bisa online..hehehe..tapi buat temen-temen tetep tinggalin jejak yah.. doain juga semoga lancar acaranya… amien..amien..

>Berantem itu indah..

>kemaren dapet e-mail dari afid, temen di pelayan pajak mampang.. e-mailnya isinya bagus,jadi saya share disini yah..biar banyak yang baca trus bisa diambil manfaatnya.
ps: fid kayaknya persiapan lu buat nikah lebih mateng daripada gue yah??? btw thanks allot yah artikelnya..

Buat Yang Udah Nikah, Mau Nikah, punya Niat untuk nikah

Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri,atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati sa’at-sa’at bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi sa’at sa’at tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi.

Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Tulisan ini murni Non Politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa menghapusnya

Ketika saya dan si pencuri [hati saya] — eh enggak koq dia tidak curi hati saya, malah saya kasikan dengan ikhlas dibarter hatinya yg tulus.

Pada awal bertemu dengan pencuri hati saya, setelah saya tanya apakah ia bersedia berbagi masa depan dengan saya, dan jawabannya tepat seperti yang diharap.

Kami mulai membicarakan : seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah.

Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah,makin energik …”

Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….”

Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”,saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :)

Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah :)

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa (maksudnya masa lalu kita).

Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu,awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.

Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah,maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat,plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.

Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..

3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga !

Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).

Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”.

Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak anak !

Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar : * Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”

* Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!

* Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa ?”

Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita ???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat !

Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa’ibaadilahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh ….

Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ….. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas….??? Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar … :)

Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.

Ini saja, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”. Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.

>www.widya-sandy.com

>Foto disamping print screennya situs www.widya-sandy.com situs yang sandy buat untuk mengabadikan cerita-cerita yang telah ada.. seperti halnya blog ini..
mmm…mungkin di
www.widya-sandy.com lebih fokus ke acara pernikahan. Katakanlan undangan online. (mudah-mudahan setelah nikah bisa kita jadikan situs keluarga…warisan buat anak cucu ;-))

Jadi buat siapa aja yang telah masuk www.widya-sandy.com berarti sudah diundang ke acara pernikahan kita. Jadi datang yah..

Eh kalo gak bisa dateng ngasih doa juga boleh di http://www.widya-sandy.com/guestbook.php
Ada juga foto-foto prewedding kita di
http://www.widya-sandy.com/gallery.php
Cerita tentang kita berdua juga tertuang di
http://www.widya-sandy.com/about.php
Button-buttonnya rada tersembunyi dibalik foto yang udah dipotong-potong.. jadi buat ngedapetin linknya pindahin kursornya dari gambar kegambar yah.
Pokoknya selamat menikmati aja deh…

>Kembali ke Fitrah..

>
Sebuah perwujudan rasa bersyukur yang amat dalam kepada Allah SWT yang telah memberikan rizky yang begitu melimpah..walaupun kadang diri masih lupa bersyukur dan terus meminta.

Tadi pagi nonton sentuhan Qolbu curahan hati tentang penderitaan TKW,menyayat hati saat melihat (kemudian berfikir akan lebih menyayat raga dan hati kalau mengalami sendiri) tentang TKW yang bekerja di Malaysia dan udah 5 tahun belum digaji disiksa pula. Alasannya kenapa jadi TKW gak usah dibahas dah umum..karena ingin membantu ekonomi keluarga.Sang Ustadz pun berkata bahwa perempuan itu jangankan wajib,sunah pun tidak dalam mencari nafkah atau bekerja (dalam kondisi normal,suami bekerja) tapi zaman sudah berubah.. banyak perempuan yang bekerja untuk alasan lain.. eksistensi diri contohnya.

Jadi teringat perkataan seorang teman yang menyayangkan kenapa saya mau resign di telkom hanya untuk menikah (ps.ditelkom sesama karyawan tidak boleh menikah,kalo menikah salah satunya harus resign) dengan pertanyaan yang sedikit pedas. “Emang dunia selebar daun kelor jadi harus mencari jodoh orang telkom juga?” hehehe… pertanyaan yang aneh.. karena saya berfikir terbalik “emang dunia selebar daun kelor jadi harus menjemput rezky cuman ditelkom?” rezky Allah itu Maha Luas.. tinggal bagaimana cara kita menjemputnya (bukan dicari karena sebenarnya setiap orang sudah ditetapkan masing-masing rezkinya)

Well.. tidak semudah itu mendapatkan jawabannya.. 9 bulan saya sudah mengenal sandy, calon suami saya.. 9 bulan pula saya sudah menelaah kenapa saya mau menikah dengannya, dan 9 bulan sudah saya memperjuangkan dan memantapkan hati saya… Sandy “sempurna” dimata saya sebagai calon suami,calon imam yang insya Allah bisa membimbing saya menjadi manusia yang lebih baik,tampan,sabar,bijaksana, dan “punya pekerjaan tetap” (yang biasanya jadi syarat orang tua dalam memberikan anak gadisnya pada sang jejaka).Tapi apakah itu sempurna bagi orang sekitar saya? Ternyata tidak… sandy punya pekerjaan tetap di “telkom” dan widya juga punya pekerjaan tetap di “telkom”.Kembali lagi pertanyaan itu muncul “Apakah tidak ada calon lain? Apakah kamu mau melepas semua yang sudah kamu rintis susah payah,gaji yang lumayan,karir yang menjanjikan dan semua yang sudah kamu raih?” butuh waktu lama untuk meyakinkan semua orang bahwa saya pasti akan mendapatkan yang lebih baik dari hanya sekedar materi yang notebene bisa saya cari lagi tidak hanya di “telkom”.

Kadang apa yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain atau sebaliknya. Seperti cerita Ayah dan Anak yang ingin menuju suatu tempat dengan naik sepeda, tapi sepedanya cuman bisa bawa 1 orang. Siapa yang akan naik sepeda? Sang Ayah atau sang anak?
Saat ayah yang naik sepeda dan anak yang berjalan, ada yang bilang orang tua yang tidak berprikemanusiaan membiarkan anak berjalan kaki sementara dia bersepada. Saat sang anak yang bersepada dan orang tua yang berjalan,ada lagi yang bilang anak tidak berbudi membiarkan orang tua sendiri berjalan sementara dia enak-enak bersepeda. Finally diambillah keputusan untuk menarik sepeda dan mereka berudua berjalan.akhirnya dibilang orang gila… well siapa yang benar?? Semuanya benar dari sudut pandang masing-masing.

Begitu juga saya… karena menurut saya sandy adalah yang terbaik.. terlepas dari sudut pandang orang yang melihat dari berbagai sisi. Saya dengan sudut pandang wanita muslim yang ingin secara penuh menuangkan eksistensi saya sebagai ibu rumah tangga. Dengan mengacu pada fitrah sebagai wanita yang akan melahirkan dan tidak berkewajiban mencari nafkah seperti yang dikatakan ustadz diatas. Sudut pandang yang sepenuhnya berakar dari pemikiran dan hati dipandu Al-Quran dan Hadist.

Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim insya Allah saya siap mengarungi kehidupan rumah tangga bersama sandy 2 minggu lagi. Doain yah semuanya lancar..

Ps : eh ini tulisan dari sudut pandang saya lho.. bukan berarti ibu rumah tangga yang bekerja diluar rumah salah atau tidak kembali ke fitrah.. Asal diizinkan suami dan bisa membagi waktu sehingga keluarga aman terkendali,ya gapapa.. saya juga masih diizinkan sandy bekerja lagi, asalkan keluarga tetap nomer 1.Tapi karena belum dapat pekerjaan baru jadi yah…mensyukuri apa yang ada dan tidak menyesali yang telah pergi aja.(kalo ada lowongan pekerjaan kasih tau yah….!!)

>Five Weird Thing..

>

Well ini tugas dari Mbu… waduh bingung kita kalo disuruh nulis 5 Weird Thing soalnya kan ada 2 orang disini..jadi dibikin 5 aja tapi separo-separo ada yang widya sendiri ada yang sandy sendiri ada yang kita berdua (mudah-mudahan 5nya cukup soalnya perasaan kita emang suka aneh-aneh sih 😉

  1. Suka kesandung…ngggg..ini punya widya..pokoknya dalam sehari tidak pernah sekalipun tanpa cela kalo jalan.Pasti ada yang namanya kesandung atau ketendang meja (ketendang dengan menyisakan lebam biru-biru didengkul..) mau pake sendal jepit,high heels,sepatu pokoknya gak ngaruh,sekali kesandung tetep kesandung :’(
  2. Suka nyasar…hehhehe..kalo ini widya sendiri aja suka bingung,koq bisa yah??? Kesasar ini biasanya kalo widya naek angkot (ngg…naek motor juga sering..apalagi kalo boncengan ma sandy trus widya jadi navigatornya..dijamin susah nyampe ketujuan deh..ngasih komandonya kadang kekiri kadang kekanan..untung aja sandy dah hapal banget jadi paling mesem-mesem..) padahal perasaan dah naek ke jurusan yang bener deh. Well..mungkin dah bakat alam kali yah..ngg..kalo dikembangin bakat ini bisa mengenerate uang gak yah?
  3. Kecoa….haiyaaaa…ini mah punya sandy..kayaknya ngomongin kecoa ma sandy dah kayak ngomongin superboy ma lex luthor, musuh bebuyutan cing!!!! Sandy gak takut..cuman jijay bajay aja..apalagi ngeliat kumisnya..meneketehennnnn!!! langsung merinding gitu deh. Untung Widya gak geli..jadi bisa dengan sukarela ngelemparin kecoa ke sandy..wkeekekekeke..
  4. Pelupa kelas kakap..hiks..hiks.. ampe jontor kali widya tiap kali sandy pergi-pergi kudu ngelist semua barang-barang yang kudu dibawa PERGI dan kudu dibawa PULANG.coz..kadang inget semua bawa tapi lupa pas balik.. udah gak keitung deh.. dari ketinggalan charger notebook pas di makassar,ketinggalan baju putih pas ke Martapura…pokoknya selalu aja ada yang ketinggalan nb : calon suamiku sayang..ntar kalo dah nikah,istrimu ini jangan sampe ketinggalan yah kalo pas jalan-jalan.
  5. Foto maniak..wah kalo ini sama-sama,Sandy gak bisa ngeliat kamera nganggur,pasti langsung mau jeprat jepret.. dari serangga, angka lift, jempol tangan,mata widya.. semua-semua deh.. nah widya juga gak betah ngeliat sandy pegang kamera,pasti langsung masang gaya.Kadang suka narcis juga gak pas situasi main minta foto aja 😉 Tapi alhamdulillah yang ke-5 ini komplementer jadi simbiosis mutualisme…saling menguntungkan.heeheheee..

dah segitu aja…kalo diperpanjang bisa-bisa blognya isinya beginian semua huheueheuehe..